GARENA4Drumus abadi ekor jitu |prediksi all pasaran togel lengkap | kunci rumus jitu angka BBFS 432d semua | Situs Bandar Togel Deposit 10rb GARENA4D | rumus kepala 4 digit ekor 4 digit all pasaran togel Untuk seluruh peminat judi togel online di Indonesia yang ingin menemukan cara daftar togel online di bandar hadiah terbesar dan terpercaya 2021, bo togel terpercaya ataupun situs bandar
JawapanTeka Teki dan Silang Kata. Sistem 25 untuk soalan teka silang kata dari ada ekor bukan binatang ada kepala bukan manusia . Sistem kita mengumpul soalan dan jawapan teka silang kata dan teka teki daripada silang kata yang popular, teka-teki yang terdapat di media massa, game Android dan lain-lain akhbar popular.
WisdomOf Life with Ps. Samuel Suruk, M.Th.Facebook PagePs. Samuel Suruk, M.Th.Instagram@samuelsurukEmailps.samuel.suruk@gmail.com
JawapanTeka Teki dan Silang Kata. Sistem 25 untuk soalan teka silang kata dari ada ekor tapi bukan haiwan ada kepala bukan orang . Sistem kita mengumpul soalan dan jawapan teka silang kata dan teka teki daripada silang kata yang popular, teka-teki yang terdapat di media massa, game Android dan lain-lain akhbar popular.
Tag Rumus Mencari Ekor Tunggal Mencari Angka Ekor 2D Mati Untuk mencari angka Ekor 2D yang mati, Anda tinggal mencari jumlah TESSON 2, misal hari ini keluar 9470, pada periode ini berarti nomor 2D-nya adalah 70 Setelah itu kita masukan ke rumus tadi 100 - 36 = 64 lalu 64 + 20 = 84 jadi angka 64 s/d 84 kemungkinan kecil keluar Rumus prediksi
Mengawalitahun dimensi yang baru, pesan Tuhan yang kuat bagi kita adalah Tuhan menyatakan dua pilihan: Jadi kepala atau jadi ekor! Tentu semua kita akan memilih untuk menjadi kepala, tapi tahukan kita bahwa justru "kepala" berbicara mengenai berbagai macam makna : 1. Penyembahan.
. Dear Sahabats, Ijinkan aku membagikan pengalaman yang berharga bersama Tuhan yang kualami di perusahaanku, Terminix Indonesia. Bukan untuk kesombongan diri & mencuri kemuliaan Tuhan, akan tetapi hanyalah untuk menyatakan betapa DASHYAT-nya Tuhan Yesus yang kita sembah, dan betapa DASHYAT-nya DAMPAK yang kita bisa lakukan jika Tuhan Yesus beserta kita. Kuteringat, semua berawal dari kira-kira 3 tahun yang lalu. Saat kurasakan Tuhan terus memanggilku untuk melakukan suatu tugas, melalui orang-orang di sekitarku. Diawali dengan upayaku untuk keluar dari perusahaanku yang terus menerus gagal, hingga istriku berkata, “Mungkin Tuhan punya maksud kenapa kamu tetap bekerja di Terminix.” Lalu tuntunan Gembala-ku di GBI WTC yang menyadarkan-ku tentang Panggilan & Amanat Agung, dimana perusahaan tempat kita bekerja adalah DOMAIN yang harus kita rebut dan menangkan untuk Tuhan. Selain itu, keikutsertaanku di KBC Kingdom Business Community yang memantapkanku untuk melangkah, yakni untuk berani menerapkan nilai2 Kebenaran dalam bekerja, apapun resikonya. Ya, Akhirnya aku melangkah. Untuk pertama kalinya, Aku memutuskan untuk mengundang Tuhan masuk ke dalam Sahabats yang diberkati Tuhan, Karena modal yang kumiliki dari Tuhan adalah jabatan-ku sebagai National Sales Manager, & keteladanan-ku berjalan mempraktekkan Kebenaran dalam keseharianku, & talenta-ku yaitu mengajar, Aku mulai melangkah. Aku memutuskan untuk mulai berkeliling cabang untuk mengajar, bukan tentang salesmanships seperti biasanya, tapi kali ini aku mengajar tentang Tuhan. Dashyat. Aku bukan seorang pendeta, pertobatan-ku baru menginjak tahun ke-3 saat itu, sehingga pengenalan-ku akan Tuhan pun belum terlalu mendalam, Tapi Roh Kudus-lah yang memberi keberanian pada diriku untuk melangkah. Aku mengajarkan teman2 di cabang, untuk menyadari pentingnya pemulihan hubungan dengan Tuhan, Aku mengajarkan nilai2 Kebenaran seperti pemulihan gambar bapa, gambar diri, luka bathin & keterikatan, Aku juga mengajak untuk meluruskan cara-cara bekerja/berbisnis yang selama ini tidak berkenan dihadapan Tuhan. Tentu, ini bukan suatu yang mudah buatku. Mengajarkan Tuhan kepada perusahaan yang 98% karyawannya menganut agama yg berbeda denganku, Yang pimpinan tertinggi-nya pun menganut agama yg berbeda denganku. Satu janji Tuhan yang terus Tuhan ingatkan padaku, Dan itu yang membuatku berani untuk terus melangkah, Engkau akan menjadi KEPALA & bukan EKOR. Dashyat. Ternyata, semua berjalan sangat baik, Dan ini tak lain membuktikan bahwa ini BUKAN karena kuat gagahku, tapi karena ada Yesus yang menyertai setiap langkahku. Sahabats ketahuilah, Hasilnya sangat dashyat. Di tahun pertama itu juga, perusahaan kami mengalami prestasi yang cukup menakjubkan. Dan ini mematahkan semua rasa pesimis yang timbul dari banyak pihak, Khususnya keragu-raguan apakah akan berhasil jika menjalankan bisnis dengan cara yang lurus. Tuhan telah membuktikan, Tanpa sogok pun perusahaan kami tetap maju, bahkan berkinerja sangat baik. Dashyat. Kini kupercaya, mujizat 5 roti & 2 ikan cukup memberi makan 5000 orang, juga aku alami. Hanya dengan modal baca talenta yang sederhana & keberanian utk melangkah, aku telah bisa ber-DAMPAK kepada perusahaan. Sahabats yang dikasihi Tuhan, Jujur, sesungguhnya aku sudah sangat puas dengan pencapaian yang sudah kualami. Tapi di tahun kedua, ternyata Tuhan membawaku naik lebih lagi terbang tinggi bagai rajawali. Tuhan mengarahkanku untuk bukan saja mengundang Tuhan masuk dalam perusahaan-ku, Melainkan untuk menjadikan Tuhan sebagai PUSAT dalam perusahaan-ku. Artinya, apapun itu yang kita lakukan haruslah menjadikan Tuhan sebagai dasar & yang utama. Dashyat. Kembali, Aku berkeliling cabang untuk mengajarkan nilai2 pentingnya Tuhan dalam kehidupan & pekerjaan kita, Bahwa Tuhan telah mempercayakan talenta & panggilan bagi setiap kita, & bahwa ada maksud Tuhan kenapa kita ditempatkan di perusahaan sekarang ini, Yakni untuk mengembangkan talenta kita & saling melengkapi untuk mencapai tujuan. Bekerja bukanlah untuk sekedar mencari uang. Bekerja bukanlah untuk sekedar mengejar kesuksesan. Bekerja adalah Amanah, DARI & UNTUK Tuhan. Haleluya. Kembali hasilnya, Kinerja perusahaan semakin membaik, Suasana kerja semakin nyaman, harmonis & sangat kekeluargaan. Dan ini membuka mata INDUK PERUSAHAAN kami. Kuteringat FirmanNya “Kota diatas bukit tidak mungkin tersembunyi.” Mereka akhirnya memutuskan untuk menjadikan kami model percontohan, Agar nilai-nilai Ketuhanan juga diterapkan di induk perusahaan kami. Dashyat. Tuhan telah membawaku naik lagi, Untuk juga ber-DAMPAK kepada induk perusahaanku. Ya, kuteringat akan janjiNya, Jika kita setia melakukan perkara kecil, Maka Tuhan akan percayakan perkara yang besar. Dan itulah yang kualami. Dashyat. Tahun ketiga, Apa yang tak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hatiku, Semua disediakan Tuhan buatku. Dimulai dengan CARA-nya yang ajaib, Tuhan memindahkanku ke People HRD Department dimana aku bisa lebih lagi fokus mengembangkan talentaku. Belum habis 6 bulan aku menjalankannya, Tuhan membawa perusahaanku mengalami restrukturisasi, Yang mengangkatku naik menjadi General Manager Operations Support. Dan visi perusahaan-ku yang baru adalah “Menjadi perusahaan terpandang di Asia Pasifik, dan mengembangkan setiap individu berdasarkan nilai-nilai Ketuhanan.” Dashyat. Tahukah kau Sahabats, Tuhan tidak berhenti disitu saja, Kabar terakhir yang mengagetkan-ku. Sudah sejak lama, Terminix International menyadari pertumbuhan yang sangat pesat yang Terminix Indonesia alami, Berbeda jauh dengan Terminix di belasan negara lainnya. Dan selama beberapa tahun terakhir ini, Berulang kali dalam kunjungannya ke Indonesia, Mereka berupaya menemukan kunci keberhasilan kami. Dan aku percaya bukan suatu kebetulan, Beberapa hari yang lalu, Aku mendapat kabar bahwa terjadi perubahan pemahaman filosofi dari Terminix International, Yang semula filosofinya, Hormati Tuhan dalam segala tindakanmu, Bantulah karyawan untuk berkembang, & selalu berupaya mencapai yang terbaik, Maka OTOMATIS, perusahaan akan bertumbuh dalam profit. Kini filosofinya menjadi, Tuhan haruslah menjadi dasar dalam upaya kami mengembangkan karyawan, Tuhan haruslah menjadi dasar dalam upaya kami memuaskan pelanggan, Tuhan pulalah yang harus menjadi dasar dalam upaya kami mencapai profit. Dahsyat. Artinya, Kini Terminix International telah menjadikan Tuhan sebagai PUSAT dari now a GOD DRIVEN COMPANY, Sebuah perusahaan yang digerakkan oleh nilai-nilai Ketuhanan. Sebuah perusahaan yang digerakkan oleh Tuhan. Dashyat. Tuhan, sungguh aku terpesona. Kuteringat nubuatan seorang hamba Tuhan kepadaku, “Engkau seperti sarung tangan yang tidak ada artinya, tapi saat engkau mempercayakan TANGAN TUHAN untuk mengisi sarung tangan itu, maka engkau MAMPU melakukan perkara-perkara AJAIB.” Akhirnya Sahabats, Aku percaya tahun ini bukan akhir dari perjalananku bersama Tuhan. Aku percaya tahun-tahun ke depan, Tuhan akan bawa aku naik lagi ke level selanjutnya. Aku percaya Tuhan akan terus menggenapi janjiNya kepadaku, Engkau akan menjadi KEPALA & bukan EKOR. BSD, 27 Oktober 2010 Robby Hadisubrata
Pdt. Bigman Sirait Kita sudah menjelajah Alkitab dalam memaknai istilah kepala bukan ekor, yang sering terucap dalam berbagai doa berkat yang tak seimbang. Tak seimbang, karena sejatinya umat Allah hanya akan jadi kepala jika mereka taat, namun sebaliknya, menjadi ekor jika mereka tidak taat. Seharusnya diingatkan kamu kepala bukan ekor, tapi juga bisa ekor dan bukan kepala, sebagai konsekwensi ketaatan. Tapi kebiasaan “mendiskon” Firman Allah nyaris menjadi tradisi yang menyedihkan dalam berbagai khotbah. Yang penting pendengar senang, bukan lagi Tuhan senang. Nah, ketika kepala menjadi ekor, kita jadikan sebuah momentum perenungan lewat berbagai “musibah” yang melanda para pendeta yang mengklaim diri sebagai kepala dan bukan ekor. Berbagai peristiwa mulai dari Amerika, Korea, Singapura, Indonesia, bahkan Nigeria yang terbilang Negara miskin, ternyata memiliki pendeta yang kelas “kepala”, karena amat sangat kaya raya dengan angka ratusan miliar hingga triliunan rupiah. Disebut kepala, karena itu adalah klaim dari diri mereka sendiri. Bahkan mereka mengklaim orang mendukung pelayan mereka, selalu berlimpah berkat. Dan celakanya, umat menelan mentah-mentah, tak ada sikap kritis yang semestinya mewarnai orang beriman. Mengapa mereka mengklaim diri sebagai kepala? Apa yang menjadi parameternya? Jangan kaget, karena parameter yang dipakai sangat kuantitatif, kekayaan, kesehatan. Semakin besar kekayaan yang dimiliki, semakin terbukti dia adalah orang yang sangat diberkati. Jangan tanya ayat Alkitabnya dimana, karena memang Anda tak akan menemukan itu, sekalipun membolak-balik Alkitab berkali-kali. Dan, jika pun ada, semua ditafsir dengan mengabaikan konteksnya. Pada umumnya, Abraham, Ishak, yang terus berlipat kekayaannya menjadi contoh yang paling disukai. Tapi mengabaikan nabi Elisa yang menolak pemberian harta yang limpah dari panglima Naaman. Apalagi para rasul di PB yang ternyata tak satupun yang kaya. Zakheus, pemukut cukai yang bertobat, mempersembahkan separuh dari hartanya untuk orang miskin. Bukannya tambah kaya, malah menjadi menurun, tapi saat yang bersamaan, dia menjadi orang yang berbahagia, dan disebut oleh Tuhan Yesus sebagai anak Abraham. Jadi pemaksaan makna ayat Alkitab, hanyalah untuk pembenaran diri. Lagi-lagi umat dituntut teliti. Karena itu, menjadi ironi, ketika para pendeta super kaya tersandung isu penggelapan, ataupun manipulasi penggunaan keuangan gereja, menjadi asset pribadi. Umat yang punya hati nurani, ataupun umat yang jengkel karena merasa tertipu berusaha membongkarnya. Tak semua bisa, karena legalitas hukum yang lemah, dan juga mafia hukum yang bergentanyangan menawarkan jasa. Kaya raya karena penggelapan uang, namun mengklaim diri kepala, bukankah itu amat sangat menyedihkan. Apalagi jika menelisik kehidupan keluarganya. Aneh tapi nyata, karena sangat kontras dengan khotbah, apalagi tuntutan Alkitab. Jika bukan keributan suami istri, hingga tuntutan perceraian, ada juga keributan antara anak dan mantu, atau antara anak yang saling berebut posisi. Atau, riak keributan tak tampak menggelombang, namun anggota keluarga amat sangat tertekan, bahkan depresi. Belum lagi perilaku moral yang tak terpuji. Maklum, kekayaan memang sangat membutakan. Biasanya seribu satu dalih disampaikan, tapi lagi-lagi hanya untuk pembenaran diri. Mereka hampir selalu lolos tanpa sanksi yang berarti, karena umat tak pernah mampu tegas dalam bersikap benar. Umat yang tanpa sadar justru menjadi pendukung kejatuhan sang hamba Tuhan. Semua bersama menjadi pendosa. Ironisnya, alsannya kasih, mengampuni, dan berbagai kata yang kehilangan kekuatan kebenaran yang harus ditegakkan, bukan diabaikan. Bukan kasih juga, menegur, bahkan menghajar? Ibrani 125-6. Tapi pengkultusan memang semakin menggila, karena ternyata banyak juga umat yang punya agenda pribadi, ingin dekat dan jadi “orang kepercayaan”. Akhirnya “saling menjatuhkan”, dan jatuh bersama. Lalu, jika mengkritisi pajak para pendeta, ini juga menjadi isu menarik. Pendeta bukanlah orang yang bebas pajak, melainkan wajib pajak. Dan pajak adalah untuk kesejahteraan rakyat banyak. Sebagai pendeta, tentu saja digugat untuk menjadi teladan bagi banyak orang, apalagi rakyat Indonesia terdiri dari berbagai agama, dan masih banyak yang hidup dibawah garis kemiskinan. Bagaimana mungkin kita meneriakkan kebenaran di dalam Kristus, jika dalam tanggung jawab umum sebagai warga Negara ternyata kita lalai, atau bahkan sengaja menghindarkan diri. Kewajiban membayar pajak pasti akan terasa berat bagi mereka yang kaya raya, namun tak rela hartanya berkurang. Padahal, di sisi lain, membayar pajak amat sangat menyenangkan, karena bisa menjadi berkat bagi saudara yang lain, yang hidup dalam kesusahan. Nah, jadi, ketika seseorang dikenal kaya raya, maka dengan mudah kita bisa meneliti, seberapa besar pajak yang dibayarkannya. Artinya, para petugas pajak dapat dengan segera menghitung besarannya. Sayangnya, fakta menunjukkan, tak sedikit para petugas pajak yang memanfaatkan kesempatan untuk keuntungan diri sendiri. Begitu juga sebaliknya dengan pembayar pajak. Celakanya yang berlabel pendeta, atau pengurus gereja. Sejatinya, Tuhan Yesus amat sangat jelas sekali berkata Berilah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan, begitu pula kepada Allah Matius 2221. Bahwa ada petugas pajak yang tak benar, itu urusan mereka, tapi urusan kita jelas, yaitu bertindak benar. Apa yang dikatakan Alkitab memang tak terbantah, ada terlalu banyak mereka yang mau melayani, tapi untuk memperkaya diri sendiri, mengambil keuntungan dari pelayanan 2 Korintus 217. Mereka melahap persembahan, persepuluhan, dan membuat berbagai proyek gereja, tapi mengantongi uang, dan menjadikan asset milik pribadi. Umat, yang tak sedikit adalah pengusaha, akuntan, terpana, dan memuluskan semua kesalahan atas nama hak hamba Tuhan. Padahal yang berhak itu, jelas hanya satu, yaitu, Tuhan Yesus Kepala Gereja, lewat gerejanya persekutuan, bersama, organisasi, sistim, bukan perorangan. Manusia adalah mahluk berdosa yang korup, karena itu, sistim di dalam kebersamaan menjadi alat bantu mengontrol pergerakan. Tidak liar, semaunya. Ah, Alkitab, kenapa dipelintir? Sayangnya, umat memakai alat ukur dunia dalam memahami berkat pemeliharaan Tuhan. Lihat dia hamba Tuhan yang diberkati, jemaatnya banyak. Entah bagaimana kebenaran logika ini. Dengan sederhananya, ada banyak agama lain, para guru yang memiliki umat lebih banyak dari warga gereja. Belum lagi apa yang dikatakan Alkitab, bahwa para penyesat gereja akan memiliki banyak pengikut. Mereka akan menyesatkan banyak orang, artinya sangat jelas banyak pengikutnya Matius 245. Kesesatan itu dimulai dari cara yang paling halus, hingga cara-cara kasar, manipulasi posisi, uang. Sejatinya, Alkitab tidak pernah memakai ukuran banyak orang sebagai tanda diberkati. Bahkan Tuhan Yesus sendiri, dengan tegas berkata Banyak orang yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih. Lalu ada juga yang memakai alasan banyak mujizat. Itu berarti diberkati Tuhan, jika bukan, pasti tidak ada mujizat. Semakin nampak, betapa umat tak memahami sepenuhnya pesan Alkitab, bahwa setan juga bisa membuat mujizat. Ingat penyihir di Mesir, juga bisa membuat tongkat jadi ular. Dan Tuhan Yesus sendiri mengingatkan, betapa ada banyak orang akan ditolakNya, padahal mereka yakin sudah bernubuat, mengusir setan, membuat mujizat, dalam nama Tuhan Yesus. Tapi Tuhan Yesus berkata Enyahlah pembuat kejahatan, Aku tidak mengenal engkau Matius 721-23. Ah, begitu terang benderangnya Alkitab memberi ukuran, tanda, agar umat tak terperdaya, tapi ternyata, tetap saja banyak yang terpedaya. Jadi sekali lagi, benarlah Alkitab, banyak yang dipanggil ke gereja, tapi sedikit yang dipilih ke surga. Semoga bukan Anda! Karena itu, kenalilah kepala yang sejati, kepala karena kualitas moralnya, keluarganya, kehidupannya yang terpuji. Cinta Tuhan bukan kekayaan. Melayani Tuhan, bukan melayani diri. Bersyukurlah senantiasa, bukan hanya di kala sehat, tapi juga sakit. Jangan-jangan, yang selama ini yang ada, hanyalah ekor. Selamat mengenali kepala yang sesungguhnya.
MENJADI KEPALA DAN BUKAN EKOR RHEMA HARI INIUlangan 2813 Tuhan akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah Tuhan, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, Berhasil dalam pekerjaan, bersinar di dalam pelayanan, karir meningkat, itulah impian semua orang. Tidak ada seorang pun yang mau mengalami stagnasi apalagi merosot dalam karirnya. Betapa bahagianya jika pekerjaan kita berhasil, terus mendapat promosi hingga naik lebih tinggi lagi. Kita rindu selalu mengalami keberhasilan dalam semua usaha yang dilakukan, bahkan dalam setiap aspek kehidupan. Semua orang ingin berhasil membangun keluarga yang berbahagia, anak ingin berhasil di mata orang tua, orang tua ingin berhasil mendidik anak-anak, dan sebagainya. Tidak ada orang yang memimpikan kenyataannya ada orang-orang yang masih bergumul dengan hal itu. Bukannya mendapatkan promosi, tapi malah degradasi ke tingkat yang lebih rendah. Penyebabnya bisa karena berbagai hal. Ada yang mengalaminya sebagai bagian dari proses pembentukan Allah, tapi ada juga karena hal yang lain. Tapi percayalah bahwa situasi itu tidak akan terjadi untuk selamanya. Apa yang diinginkan Tuhan adalah menempatkan setiap umat-Nya menjadi kepala dan bukan ekor. Tetap naik dan bukan menjadi kepala’ memiliki makna yang sangat luas. Itu berarti kehidupan kita menjadi berkat, teladan dan membawa pengaruh yang luar biasa bagi banyak orang. Kita menjadi panutan bagi banyak orang. Ke mana kepala’ pergi, ke situ ekor’ pasti akan mengikuti. Bukan hanya berbicara soal pangkat atau kekayaan yang dimiliki oleh seseorang, melainkan kualitas hidup. Itu sebabnya kita harus terus memfokuskan hidup kita kepada Tuhan. Sebab hanya ketika hidup kita berpusat kepada Tuhan sajalah, maka promosi yang datang atas hidup kita akan bersifat kekal. Saat itulah Tuhan akan menambahkan banyak hal lain yang kita perlukan untuk kita senantiasa bisa menjadi berkat dimanapun kita ditempatkan. Rdf. RENUNGANKehendak Tuhan membawa kita MENJADI KEPALA BUKAN EKOR. APLIKASI Menurut Anda, mengapa Tuhan rindu membawa kita menjadi kepala dan bukan ekor?Apa dampak yang akan kita rasakan ketika Tuhan menjadikan kita kepala?Apa komitmen Anda agar kehendak Tuhan menjadikan kita kepala sungguh-sungguh terjadi dalam hidup Anda? DOA UNTUK HARI INI“Ya Bapa, kami percaya firman-Mu adalah ya dan amin. Kalaupun saat ini situasi kami tidak sesuai harapan kami, tetapi kami percaya rencana-Mu pasti tergenapi dalam hidup kami. Yaitu agar kami menjadi kepala dan bukan ekor. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.”
Pdt. Bigman Sirait KEPALA bukan ekor, adalah kata yang sangat akrab di telinga kita. Tiap kali terucap oleh pengkhotbah, dengan semangat tinggi umat akan mengaminkannya. Apalagi jika sang pengkhotbah berapi-api, dapat dibayangkan respon pendengar. Hal ini dapat dipahami, karena setiap orang pasti tak rela menjadi ekor. Menjadi kepala berarti kaya, si miskinlah ekornya. Orang yang sehat itu ekspresi yang kepala, sementara miskin Anda tahu jawabannya. Semua diukur secara kuantitatif, deret angka. Para pembicara selalu memberi tekanan yang jelas soal kepala dalam ukuran angka, keberhasilan kuantitatif. Kamu kepala karena kamu “orang percaya”, “umat Allah”, itu otomatis. Jika kamu tidak kaya, atau kamu sakit, kamu adalah ekor, kurang beriman, itu rumusannya. Terasa sangat kejam, karena memang sangat diskriminatif, padahal Tuhan tak begitu. Ini adalah wajah aneh kekristenan yang dimunculkan oleh orang berpikiran pendek, sangat bergairah dengan angka, dan mengabaikan semangat sejati Alkitab. Dengan jelas, Alkitab membicarakan kualitas yang menjadi tuntutan. Lihatlah apa kata Yesus tentang pujian Israel “Percuma bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku”. Israel mengedepankan kuantitas, sementara Tuhan menuntut kualitas. Ungkapan ini diucapkan Yesaya sebagai nabi. Yesaya menyampaikan kebencian Allah akan kemunafikan yang mewarnai puasa, perpuluhan, dan ibadah Israel. Tampaknya hal itu kembali terulang di kekinian gereja. Tapi celakanya justru inilah yang diminati umat. Orang rela mengantri untuk motivasi seperti ini. Kurang suka pada kualitas, karena kualitas selalu menuntut keberanian dan pengorbanan yang besar. Tak ada yang mau membayar harga dalam mengikut Yesus, semuanya mau mengambil untung dari percayanya. Padahal keuntungan percaya terle-tak pada keselamatan yang diterima cuma-cuma, bukan soal status sosial atau keadaan lahiriah. Itulah sebab, mengapa para rasul justru merasa beruntung boleh menderita untuk Yesus, bukan sebaliknya, merasa beruntung karena bisnis yang berlipat-lipat. Apakah tidak boleh kaya? Tentu saja bukan itu maksudnya, tetapi amat sangat jelas, kaya bukanlah tujuan orang percaya, melainkan sekadar alat untuk memuliakan Tuhan. Kekayaan bukan kemuliaan diri, kemuliaan adalah pengabdian pada Sang Kebenaran. Kembali pada “kepala bukan ekor”. Menjadi kepala bukan ekor Ulangan 2813 yang dimaksud Alkitab adalah, menjadi pemimpin, pemberi arah. Menjadi kepala itu sangat jelas. Ke mana kepala pergi ke situ ekor mengikuti. Jadi yang dimaksud menjadi kepala bukan soal kaya, atau kuantitas, tetapi sekali lagi soal kualitas. Israel tak boleh seperti bangsa lain yang kafir, tak mengenal Allah. Israel harus bisa menunjukkan keunikannya dalam monoteisnya. Israel yang ber-Allah satu. Itu unik di tengah bangsa lain yang ber-Allah banyak. Itu sebab Israel dituntut setia terhadap firman Tuhan dan mengajarkannya berulang kali kepada setiap anak-anak Israel. Dalam kesetiaan itu mereka diatur oleh hukum Allah yang berdaulat. Maka jika mereka taat, mereka akan menjadi bangsa yang besar dan berpengaruh, berkuasa dan mempengaruhi bangsa yang lainnya. Itulah menjadi kepala. Sementara soal harta, kesehatan, dan yang lainnya adalah bonus belaka, bukan tujuan utama. Tujuan utama kepala adalah memberi arah, memimpin di jalan yang benar. Indah bukan? Menjadi ekor sudah jelas pengekor, mengikuti arus jaman. Dunia sangat cinta uang, materialistis. Apa saja dihalalkan dalam mengumpulkan uang. Uang membuat seseorang merasa terhormat, dan dengan uang bisa membeli apa saja. Bahkan bisa belanja keadilan, dan kehormatan semu. Uang menjadi tujuan kebanyakan para imam di era Perjanjian Lama, dan semakin menggila di era Perjanjian Baru. Para imam mencari keuntungan lewat ibadah di bait Allah. Yesus pernah membongkar praktek mereka, dan menyucikan bait suci yang ternyata tak suci. Dan yang paling mengerikan, Yudas pun rela menjual Yesus dengan 30 keping perak. Uang telah membuat Yudas gelap mata, membuang kehormatan kemuridannya. Semua soal uang, soal kaya. Inikah menjadi kepala? Jelas amat sangat itu salah. Itu bukan kepala, tetapi sebaliknya itu ekor tanpa daya. Tertarik dengan nilai dunia, dan menjadi pengikutnya. Ironis bukan, merasa menjadi kepala, padahal murni ekor. Mengikut dunia, tetapi merasa memimpinnya. Itu sebab tidak heran jika dunia mencemooh gereja yang semakin hari semakin berkurang saja orang setia yang beriman teguh. Mirip kisah Gideon yang mempersiapkan tentara untuk pertempuran sebanyak 30 ribu orang Hakim 7. Tetapi ternyata tinggal sedikit ketika seleksi ilahi terjadi. Gideon pergi bertempur hanya dengan 300 tentara, dan berhasil. Gereja bagaikan 30 ribu orang yang banyak, ramai, penuh. Padahal yang sejati hanya 300 orang, kecil, sedikit, tampak tak berarti, tapi itulah pemenangnya. Kualitas bukan kuantitas. Jadi sangat jelas bukan artinya menjadi kepala. Ingat, para nabi bukan orang kaya, bahkan sebaliknya, ada yang peternak kaya dipanggil jadi nabi dan meninggalkan semuanya. Ada Elisa yang menolak uang Naaman, sementara pelayan masa kini mirip Gehazi pembantu Elisa, bukan saja menyambar uang yang ditolak Elisa, jika perlu mereka menipu dengan dalih proyek pelayanan. Dan jika kaya, mereka menyebut diri kepala. Sungguh sebuah penipuan yang licin. Penipuan dengan pembenaran yang diindoktrinasikan, yang membuat umat terbius, dan kalaupun tahu, takut mengoreksinya. Ingat, kaya bukan dosa, bukan kaya yang jadi masalah, tetapi konsepnya dan caranya. Jika Tuhan mau memberi, apalah susahnya. Dunia ini, dan segenap isinya milik Tuhan. Tapi, berkata mewah itu dari Tuhan, dan menjadikannya gaya hidup, itulah persoalan. Umat Kristen menjadi sangat self oriented, gila kaya, kehilangan kepekaan pada sesama. Kesaksian selalu berputar soal kuantitas, bukan lagi kualitas hidup. Seharusnya menjadi kepala, adalah menjadi orang yang berintegritas, orang yang dapat diteladani menjadi model, menjadi kepala. Alangkah indahnya dunia jika orang Kristen menjadi terang seperti tuntutan Yesus kepada setiap orang percaya. Orang Kristen menjadi ke-pala, sehingga jelaslah arah kehidupan. Ini menjadi tuntutan pada setiap pemimpin. Dalam ke-pemimpinan umum, seharusnya seorang pemimpin memiliki jiwa kepahlawanan, menjadi pelindung kaumnya, dan sangat menjaga orang di sekitarnya. Dia bukan tipe orang yang mengamankan diri, dan pengkhianat terhadap pengabdian orangnya sendiri. Dia bukan pemim-pin yang hanya lancar bicara, tapi gagap mewujudkannya. Bukan oportunis, cinta kaya, ingin jadi idola, tetapi mengorbankan kawan-kawannya. Begitu pula dalam dunia keagamaan, sungguh tak bisa dibayangkan pemimpin agama yang oportunis bukan? Menyedot kekayaan umat, dengan meminta umat suka memberi, padahal dia sendiri sebagai pemimpin agama tak suka berbagi. Hanya menumpuk untuk diri, dan terus berjalan dalam manipulasi. Menjadi kepala bukan ekor dalam arti yang sesungguhnya sangat dibutuhkan di tengah dunia yang oportunis ini. Menjadi kepala bukan ekor sudah seharusnya menjadi semangat yang tak pernah padam, itulah panggilan orang percaya. Cobalah mulai dengan sikap yang kritis dengan mencermati kepemimpinan agama di sekitar Anda, mulailah mengenali mana yang sejati dan mana yang hanya sekadar untuk materi. Ingat, jual beli “Firman” sudah sangat terkenal di era Bileam si nabi mata duitan. Karena itu jangan terjerumus lagi di lubang yang sama, di kekinian masa. Lalu mulai pula dengan berani mempertanyakan hal yang kelihatan salah. Tak perlu takut risikonya, karena Tuhan Yesus sudah mengatakannya bahwa yang layak menjadi murid-Nya hanyalah mereka yang berani menanggung risiko. Tentukan sikap, apakah Anda kepala murid Kristus, atau hanya ekor pengikut pemimpin agama. Lalu belajarlah menyuarakan kebenaran, belajar menjadi ke-pala yang tegak, Kristen yang punya sikap, yang konsisten. Ingat ekor akan mengikut Anda. Jika arah sudah benar, berbahagialah, karena Anda telah menolong banyak orang tahu jalan kebenaran, dan saat yang sama tahu pula apa itu kepalsuaan. Selamat menjadi kepala dan bukan ekor, yang sesungguhnya, bukan yang ecek-ecek.
Posted on 03/04/2022 In QnA Ditulis oleh Pdt. Yakub Tri Handoko Leave a comment Salah satu janji Allah yang akrab di telinga banyak orang Kristen adalah ini “TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun” Ul. 2813a? Beberapa gereja menjadikan teks ini sebagai bagian dari doa berkat atau doa yang lain dalam ibadah. Beberapa orang Kristen bahkan mengucapkan kalimat ini di pagi hari sebelum melakukan aktivitas lainnya. Mereka meyakini bahwa setiap anak Tuhan pasti akan menjadi kepala. Lebih lanjut, mereka memahami kepala di sini dalam arti jabatan posisi pemimpin, prestasi juara dalam kompetisi, popularitas terkenal, maupun kemakmuran kaya raya, bukan sekadar cukup. Dengan konsep semacam ini tidak heran Ulangan 2813 menjadi salah satu janji paling favorit bagi orang-orang Kristen. Apakah teks ini memang harus ditafsirkan demikian? Benarkah setiap orang Kristen akan menjadi kepala di mana saja dia bersekolah, berlomba maupun dan bekerja? Pembacaan Alkitab yang teliti dan penggunaan logika sederhana sudah memadai untuk mengetahui kekeliruan dalam konsep populer di atas. Pertama, ayat ini seharusnya dipahami secara komunal, bukan personal. Janji-janji di pasal 28 ditujukan kepada seluruh bangsa Israel. Kata ganti yang digunakan di sana adalah maskulin singular, yang menyiratkan bangsa Israel secara keseluruhan. TUHAN sedang berbicara kepada mereka dalam kapasitas mereka sebagai umat yang dikuduskan oleh dan untuk Tuhan 289. Ini juga sesuai dengan salah satu berkat yang dijanjikan, yaitu negeri Kanaan 288, 11. Konsep populer tentang janji-janji ini lebih ke arah personal individualistis. Setiap orang Kristen akan dijadikan kepala. Ini jelas tidak sesuai dengan maksud teks. Kedua, kepala dan ekor dikontraskan dengan bangsa-bangsa lain. Sejak awal pasal 28 Musa sudah mengatakan “TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi” Ul. 281. Di bagian selanjutnya dikatakan “Maka segala bangsa di bumi akan melihat, bahwa nama TUHAN telah disebut atasmu, dan mereka akan takut kepadamu” Ul. 2810. Dalam konteks posisi bangsa Israel di antara bangsa-bangsa inilah janji di ayat 13 diberikan. Konsep populer tentang Ulangan 2813 mendorong orang-orang Kristen untuk mengontraskan dirinya secara personal dengan siapa saja yang ada di sekelilingnya entah di sekolah, pekerjaan atau perlombaan. Mereka bahkan tidak memperhitungkan bahwa di sekeliling mereka juga ada banyak orang Kristen. Ketiga, istilah “kepala” harus dipahami secara figuratif dan benar. Apa arti “menjadi kepala dan bukan ekor”? Konteks Ulangan 28 memberikan petunjuk yang berharga. Secara konsisten ungkapan “kepala – ekor” dihubungkan dengan memberi/menerima pinjaman. Sebelum ungkapan ini muncul, Allah berjanji “engkau memberi pinjaman kepada banyak bangsa, tetapi engkau sendiri tidak meminta pinjaman” 2812b. Dalam pemaparan tentang kutuk yang akan menimpa bangsa Israel jika mereka melanggar perintah-perintah TUHAN, Musa berkata “Ia akan memberi pinjaman kepadamu, tetapi engkau tidak akan memberi pinjaman kepadanya; ia akan menjadi kepala, tetapi engkau akan menjadi ekor” 2844. Berdasarkan konteks pinjam – meminjam ini, kita sebaiknya memahami “kepala – ekor” dalam arti kebebasan untuk mengatur hidup sendiri. Menjadi kepala berarti menjadi penentu atau pengatur, ekor hanya mengikuti saja apa yang menjadi kemauan kepala. Seperti itu juga orang yang terlilit oleh hutang. Dia menjadi ekor yang hanya mengikuti kemauan orang lain yang memberikan pinjaman kepala. Makna ini juga diteguhkan oleh pemunculan ungkapan “kepala – ekor” di bagian Alkitab yang lain. Yesaya 914-15 menyebutkan tua-tua dan orang-orang yang terpandang sebagai kepala, sedangkan para nabi palsu sebagai ekor. Baik kepala maupun ekor akan dihukum oleh TUHAN. Para nabi seharusnya yang menjadi kepala. Mereka yang menyampaikan isi hati TUHAN, sedangkan raja, para pemimpin, dan seluruh rakyat hanya mengikuti dia saja. Ironisnya, kondisi umat TUHAN justru terbalik. Nabi-nabi kehilangan suara kenabian dan hanya mengekor pihak yang berkuasa. Terakhir, pandangan populer tentang Ulangan 2813 tidak mungkin terpenuhi. Penafsiran populer yang terlalu individualistis pasti menimbulkan banyak kesulitan. Jika menjadi kepala artinya menjadi nomor satu, bagaimana dengan murid-murid Kristen di sekolah Kristen? Bagaimana dengan suatu perlombaan yang diikuti oleh anak-anak Tuhan? Siapa di antara mereka yang akan menjadi kepala dan ekor? Lalu bagaimana dengan banyak orang Kristen yang menjadi karyawan biasa di suatu perusahaan? Apakah itu berarti mereka tidak menerima janji ini? Penafsiran populer hanya memberi ruang bagi orang-orang tertentu saja yang jumlahnya sangat sedikit. Penafsiran yang terlalu personal justru bisa memberi kesan bahwa TUHAN tidak memegang janji-Nya, karena jumlah orang Kristen yang menjadi kepala menurut pandangan populer jauh lebih sedikit daripada yang tidak menjadi kepala. Banyak sekali anak-anak TUHAN yang popularitas, karir dan prestasinya biasa-biasa saja. Lalu bagaimana kita sebaiknya memahami janji TUHAN di Ulangan 2813? Sekali lagi, kata kuncinya adalah komunal. Jika anak-anak TUHAN secara komunal mengasihi dan menaati TUHAN, orang-orang Kristen akan memiliki kapasitas untuk memengaruhi banyak orang, bahkan dunia ini. Kita akan dimampukan untuk merembeskan nilai-nilai kerajaan Allah dan keindahan Injil dalam beragam aspek kehidupan. Dunia akan menjadi tempat yang lebih baik untuk ditinggali oleh semua bangsa. Soli Deo Gloria. Photo by Ben White on Unsplash
RHEMA HARI INI Ulangan 2813 TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkaumendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari inikaulakukan dengan setia, Hari itu mendung gelap sudah menggantung sejak pagi, Linny hanya bisa berharap nanti malam tidak turun hujan. Telah seminggu penuh, hujan turun hampir sepanjang hari, usaha kuliner Linny jadi sepi pengunjung. Hal ini masih ditambah dengan diberlakukannya lagi PSBB, jalan-jalan jadi lengang karena banyak orang memilih tetap di rumah saja. Suasana hati Linny jadi ikut kelabu, rasanya jadi tidak semangat untuk bekerja. Ibu Linny yang mengetahui hal ini, berusaha menghibur, “ Tidak apa-apa Lin, semua juga merasakan hal yang sama. Memang ini saatnya semua sedang lesu. Bersabar saja ya.” Apa yang dikatakan ibu Linny memang ada benarnya. Dampak pandemi dan krisis ekonomi dirasakan oleh hampir semua masyarakat dan semua jenis usaha. Akan tetapi kita harus sadar bahwa ada satu dimensi berkat Tuhan yang bisa membawa kita untuk diberkati di semua musim. Ada berkat sangat spesial yang akan Tuhan curahkan dalam hidup setiap kita, yaitu dalam situasi seperti apapun Tuhan mau membawa kita tetap naik dan bukan turun. Ini bukanlah jenis berkat yang kadang naik kadang turun, tetapi terus naik dan terbang tinggi bagai rajawali. Belajar dari kisah Yusuf, yang walaupun nasip seakan tak berpihak kepadanya, namun Yusuf tak pernah menyerah akan janji Tuhan. Karena itulah berkat Tuhan juga tak pernah meninggalkan Yusuf, selalu ada pertolongan Tuhan yang ajaib dalam setiap musim kehidupan Yusuf. Inilah berkat semua musim yang ingin Tuhan berikan bagi kita semua. Walaupun seolah keadaan kita saat ini tengah terjepit, walaupun seolah bisnis atau pekerjaan kita tidak ada harapan lagi, tetapi berkat Tuhan akan selalu memelihara kita. Akan ada campur tangan Tuhan yang membuat kita bisa tetap naik meskipun situasi dunia sedang tidak baik. Jika kita baik-baik mendengarkan perintah Tuhan, menangkap dan memegang erat setiap rhema yang Tuhan sampaikan melalui gereja kita, maka Tuhan akan menjadikan kita kepala dan bukan ekor. Tangan Tuhan yang akan mengangkat kita terus naik dan bukan turun dalam setiap musim kehidupan yang kita lalui. PF RENUNGAN Dalam SITUASI APA PUN, Tuhan mau membawa kita TETAP NAIK dan bukan turun. APLIKASI 1. Menurut Anda, apa yang Tuhan inginkan bagi setiap anak-anakNya? 2. Pertolongan Tuhan apa yang pernah Anda dapatkan ketika Anda sedang sangat membutuhkannya? 3. Apa yang harus Anda lakukan agar Tuhan bisa membawa Anda tetap naik dan bukan turun? DOA UNTUK HARI INI Tuhan Yesus, kami teramat percaya bahwa rencana-Mu besar bagi setiap kami. Engkau ingin agar kami anak-anakMu tetap naik dan bukan turun dalam situasi apapun. Kami mau pegang erat janji-Mu Tuhan, dan kami akan terus berusaha mengerjakan apa yang ada di tangan kami saat ini sebaik mungkin. Kami percaya, berkat-Mu ada dalam setiap musim kehidupan kami. Terimakasih Tuhan, di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
jadi kepala bukan ekor