Selaingiat belajar dengan dibarengi penguatan karakter, sikap disiplin juga merupakan bentuk rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negara yang dapat dilakukan oleh para pemuda. Disiplin itu sendiri merupakan suatu kondisi tercipta dan terbentuk melalui proses serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan
Keduanyakemudian dilaporkan tewas saat bertugas. Takeshi dan Miki pun dikenang sebagai pahlawan yang rela mati demi menyelamatkan nyawa orang lain. 5. Arland Williams, mati kedinginan demi orang lain. Sebuah insiden kecelakaan terjadi pada sebuah pesawat penerbangan Florida Flight 90 yang jatuh di danau beku pada Januari 1982.
Ataudapat diartikan rela berkorban: orang yang mau mengorbankan dirinya sendiri demi membahagiakan/memenuhi kebutuhan orang lain. Definisi Rela Berkorban. Menurut istilah berarti bersedia dengan ikhlas, senang hati, dengan tidak mengharapkan imbalan berupa apapun didunia, dan mau memberikan sebagian yang dimiliki sekalipun menimbulkan
Tigatahun setelah itu, yakni tahun 2012, ia kembali berkorban dua ekor kambing. Dan tahun ini, tahun 2013, ia berkorban seekor sapi. Aspek yang penting diteladani dari sosok Bambang adalah semangatnya yang sangat besar untuk berkorban. Profesi sebagai tukang becak tidak menyurutkan niatnya berkorban. Sama seperti yang dilakukan pasangan Abdul
Berkorban& Berbagi untuk Orang Lain (Ekspositori Injil Lukas -59) 29 Mar, 2015 by Pdt. Billy Kristanto, Th.D dalam gedung itu banyak sekali, kalau foundation itu memberikan uang, hampir tidak terbatas, tapi kemudian Ev. Timothy kasih komentar, termasuk orang-orang yang mau aborsi juga bisa apply di sini, kalau sudah dapat uang bisa aborsi
1 Pada prinsipnya, orang yang telah bersyahadat (beragama Islam) berlaku atasnya semua hukum-hukum Islam, dan orang yang keluar dari Islam (kafir) batal atasnya hukum-hukum Islam, termasuk pernikahannya secara otomatis batal, tidak ada hak asuh baginya terhadap anaknya, tidak ada hak untuk mewariskan dan mewarisi, dan jika meninggal dalam keadaan kufur tidak dikubur di pemakaman Islam serta
. – Pertanyaan kasih yang mau berkorban untuk orang lain disebut dengan merupakan pertanyaan yang kerap ditanyakan saat ulangan yang dilaksanakan saat berakhirnya sebuah pembahasan. Ini adalah semacam uji kompetensi guna menilai pengertian peserta didik atas bahan ajar yang diajarkan. Saat akhir tiap bab materi, para guru bakal memberikan soal. Gunanya yaitu untuk melihat sejauh mana para peserta didik dapat menyerap pembahasan yang diajarkan. Juga bagaimana umumnya peserta didik mencapai patokan yang digariskan dalam kurikulum. Pemahaman setiap peserta didik pastilah berlainan. Tapi secara umum bisa menggunakan nilai rata-rata. Nilai tersebut yang nantinya akan dibandingkan dengan patokan yang digariskan dalam kurikulum. Guna melihat apakah pencapaiannya terpenuhi. Baca Juga Jawaban Soal Sistem Ekskresi Manusia Bertujuan Untuk Mengeluarkan Apa? Pencapaian inilah yang akan dijadikan patokan dalam kurikulum. Untuk memantau apakah pedoman yang ditetapkan memang sejalan dengan tingkat pemahaman para siswa untuk kelas tersebut. Sehingga dapat menjadi input guna revisi dan pengembangan kurikulum. Pertanyaan Kasih yang mau berkorban untuk orang lain disebut dengan A. agape B. eros C. philia Editor Rian Dwi Atmoko Sumber Brainly Tags Terkini
Semua orang sangat familiar dengan kata “kasih”, tetapi sayangnya tidak setiap orang mengerti dengan benar makna kata "kasih".Secara umum orang memaknai kasih adalah sama dengan memberi. Contoh sederhana bila kita melihat seseorang mengalami kesusahan, maka orang yang memberi pertolongan disebut orang yang telah menyatakan kasih. Apakah makna kasih sesederhana itu?Untuk menjawabnya marilah kita tampilkan satu kata lain seperti yang ada dijudul renungan ini, yaitu kata “donasi”. Saya yakin kalau anda sering menonton TV akhir-akhir ini, maka kata ini sudah tidak asing lagi bagi kita. Terlebih dengan sering terjadinya bencana yang datang secara beruntun, maka stasiun televisi termasuk para sponsor programnya selalu mencantumkan menghimbau para pemirsanya untuk memberikan donasi dalam rangka meringankan penderitaan bagi para korban bencana. Tentu saja kegiatan solidaritas ini sangat positif dan berfaedah. Pertanyaannya adalah apakah memberikan donasi sama dengan makna kasih yang sesungguhnya? Jawabannya tentu saja tidak! Lalu, apa makna kasih itu? Di manakah kita dapatkan arti kata makna kasih itu? Apakah dapat kita peroleh dari ilmu bahasa untuk mencari arti terminologi kata kasih itu? Dalam teks bacaan kita Yohanes 316 tertulis "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." Apakah Kasih yang dikatakan Injil Yohanes sama dengan makna kasih yang diajarkan manusia? Jika kita memerhatikan secara teliti isi ayat ini, di situ tidak ditulis kata "kasih" saja, tetapi ditulis 2 kata yang tidak terpisah yaitu “kasih Allah”. Dengan demikian tentu saja jauh berbeda antara kasih Allah dengan kasih versi manusia. Memang makna dari versi Allah dengan makna dari versi manusia dua-duanya ada kata "memberi", tetapi tetap saja ada perbedaannya. Apa perbedaannya? Perbedaannya ternyata dari motif/pemberiannya. Seperti kita ketahui bahwa Allah adalah “ Kasih “ I Yohanes 48, tetapi kasih itu telah diejawantahkan atau diwujudkan dalam diri Anak-Nya Tuhan Yesus Kristus. Nah, dari titik ini barulah kita bisa melihat perbedaan antara kasih milik Allah dengan kasih milik menurut versi manusia tidak lepas dari motifnya dan status sosial yang disandangnya. Kasih yang dinyatakan oleh pemimpin agama dan umat beragama adalah kasih yang didasarkan pada norma-norma agama atau spritualitas atau kerohanian atau religiusitasnya. Bagi para pengusaha atau majikan tentu kasih yang ditunjukkan berdasar pada sama-sama untung take and give, sedangkan bagi para donatur dermawan dan yayasan yang dibentuknya tentunya didasarkan pada motif sosial. Apakah kasih milik Allah memiliki motif yang sama seperti itu? Sama sekali tidak! Kasih Allah adalah kasih yang tidak dimiliki oleh manusia, melainkan hanya dimiliki oleh Anak-Nya yang tunggal yakni Tuhan Yesus Kristus. Jadi suatu kebohongan besar bila seseorang mengatakan ia memiliki kasih Allah walaupun ia rajin memberikan sumbangan donasi, rajin melakukan kegiatan keagamaan, kegiatan sosial, karena Kasih Allah Pemberian Allah tidak sama dengan motif-motif yang dilakukan Allah adalah Kasih tanpa pamrih. Kasih tanpa motif dan sama sekali tidak dimiliki manusia. Cuma ada satu cara, yakni sebagaimana Rasul Yohanes katakan dalam surat kirimannya, yakni dengan menyatunya kita dengan Tuhan Yesus Kristus si pemilik kasih Allah itu. Kemanunggalan kita dengan Tuhan Yesus Kristus akan merefleksikan kasih Allah tersalur dari diri kita. Lalu, apa yang membedakan kasih versi manusia dengan kasih Allah? Tadi sudah dijelaskan bahwa kasih Allah adalah kasih yang memberi tanpa pamrih, tanpa motif. Kasih yang mau menyelamatkan meskipun Ia harus kehilangan nyawa, yaitu pemberian yang melekat dengan pengorbanan. Kasih manusia tidak ada yang seperti itu. Kasih manusia lebih banyak pada batasan simpati, tetapi kasih Allah lebih dalam dari itu. Allah berempati kepada orang-orang miskin/hina dengan jalan mempersembahkan diri-Nya sendiri persembahan 100%, bukan 10%.Dalam kisah janda miskin yang mempersembahkan persembahannya yang mungkin berkisar sekitar Rp 1000,- sedangkan orang-orang kaya memberikan yang mungkin jutaan rupiah, secara kasat mata tentu orang menilai orang-orang kaya itu yang ibadahnya diterima Tuhan. Ternyata orang keliru. Ternyata Tuhan Yesus berkenan terhadap pemberian janda miskin bahkan Tuhan Yesus memujinya dengan mengatakan bahwa janda miskin memberi lebih banyak dari orang kaya itu. Tuhan Yesus tidak membutuhkan kasih versi manusia dalam bentuk donasi. Janda miskin memberi dari kekurangannya/kemiskinannya, bahkan Tuhan Yesus mengatakan bahwa janda miskin ini memberikan seluruh nafkahnya seluruh miliknya 100%. Kasih Allah adalah kasih yang dilandasi oleh pengorbanan. Lalu, pengorbanan untuk apa? Mungkin orang mau berkorban disuruh apa pun untuk meraih kesuksesan, kekayaan, kepintaran, atau melindungi keluarga yang kita kasihi. Semua itu masih dalam lingkaran diri kita/ego kita. Akan tetapi, adakah orang yang mau berkorban bukan untuk kepentingan diri sendiri tetapi berkorban untuk orang lain bahkan untuk musuh kita?Tindakan kasih Allah adalah di luar jangkauan pemikiran kita. Ia berkorban mati justru untuk musuh-Nya. Bukankah Alkitab mengatakan ketika manusia berdosa maka manusia menjadi seteru/musuh Allah? Tak ada satu orang pun yang dapat mendamaikannya kecuali Allah didalam kasih-Nya melalui Anak-Nya Tuhan Yesus Kristus. Pengorbanan Allah dilandasi oleh kebenaran/keadilan Allah. Keadilan Allah tidak sama dengan keadilan dunia ini. Keadilan Allah dilandasi oleh kasih-Nya laksana seorang ayah terhadap anak-anaknya. Kasih yang mau memberi dan kasih yang mau berkorban. Lalu, apa perbedaan antara keadilan Allah dengan keadilan dunia? Tentu berbeda. Keadilan dunia tetap membedakan status/hirarki seseorang. Sedangkan keadilan Allah didasarkan pada kebenarannya bahwa semua manusia telah berdosa, tidak ada perbedaan di mata Allah. Apa arti tidak ada perbedaan? Berarti kita semua ini harusnya memiliki persamaan hak setelah kita dipulihkan dan diselamatkan oleh Kristus. Oleh sebab itu, perintah baru yang diberikan Yesus menggantikan perintah agama, yaitu kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri.***By. Ev. Andereas Dermawan
Dalam menjalani kehidupan ini, penting sekali kita berkorban untuk orang lain. Berkorban dalam artian, bukan kita mau tersiksa ataupun mau mati karena orang lain. Rela berkorban dalam hal kita mau untuk memberikan diri untuk kebaikan orang lain. Harus kita ketahui bahwa ketika kita mau rela berkorban maka kita akan mendapatkan banyak manfaat. Kita akan mendapatkan banyak kebaikan. Oleh karena itu, berikut empat manfaat jika kita mau rela berkorban untuk orang lain. 1. Mempunyai banyak teman Ketika kita mau rela berkorban maka kita akan mempunyai banyak teman. Harus diakui bahwa rela berkorban itu dampaknya sangat positif dalam hidup kita. Harus kita akui bahwa dalam hidup ini kita perlu berkorban untuk orang lain, bukan hanya untuk keluarga, teman dan lainnya. Selanjutnya, rela berkorban itu akan mencirikan kita sebagai orang yang mau mengasihi orang lain tanpa membeda-bedakan. 2. Terciptanya kebersamaan Manfaat kedua adalah terciptanya kebersamaan. Harus dipahami bahwa dengan rela berkorban maka akan tercipta sebuah kebersamaan. Jangan pernah takut bahwa kita akan rugi ketika mau berkorban untuk orang lain. Kita harus bisa menunjukkan masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang beragam dan saling mencintai satu dengan lainnya. 3. Banyak orang yang mencintai kita Manfaat kedua adalah banyak orang yang mencintai kita. Harus disadari bahwa dengan kita rela berkorban maka akan banyak orang yang mencintai kita. Dalam hidup ini, kita butuh cinta yang tulus agar hidup kita lebih baik dan lebih berwarna. Hal tersebut kita dapat ketika menaburkan kebaikan seperti rela berkorban. 4. Mendapatkan banyak berkat Manfaat keempat adalah mendapatkan banyak berkat. Harus dipahami bahwa rela berkorban akan membantu kita mendapatkan banyak berkat. Berkat itulah yang akan menguatkan kita. Tuhan akan melihat bagaimana perilaku dan tindakan kita sehari-hari. Kalau kita menjalankan kebiasaan yang baik maka berkat akan berlimpah buat kita. Dengan adanya empat manfaat rela berkorban tersebut, semoga saja membuat kita semakin baik lagi ke depannya. Semoga saja kita bisa terus berbuat kebaikan untuk masyarakat dan bagi semua orang yang memerlukan bantuan kita.
Ayat bacaan Markus 1516-47. Ayat kunci Efesus 52 “ Dan hiduplah didalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga mengasihi kamu dan telah menyerahkan diriNya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah”. Kasih Allah Bapa kepada umat manusia dibuktikan dengan dikorbankanNya Yesus untuk mati diatas kayu salib. Sehingga siapa yang percaya kepada Yesus akan diselamatkan dari kematian kekal di neraka. Tidak dapat dipungkiri bahwa jika kita mengasihi seseorang, ada dorongan kuat dalam hati kita untuk mau berkorban bagi orang itu. Pengorbanan tersebut akan dilakukan dengan senang hati dan terasa ringan. Jika kita mengatakan bahwa kita memiliki kasih Kristus di hati kita, maka kita pasti akan rela berkorban untuk Tuhan dan untuk sesama manusia. Kalau kita mulai merasa berat untuk berkorban dan cenderung untuk hitung untung ruginya, maka kita harus menguji kembali apakah kasih dihati kita sudah mulai dingin. Waspadalah, jangan sampai kasih kita menjadi dingin seperti apa yang telah diperingatkan oleh Firman Tuhan dalam Matius 2412 ”Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin”. Berdoalah agar Tuhan memberikan kasih Kristus dihati kita. Kasih hanya bisa sempurna apabila disertai dengan pengorbanan. Melakukan Firman Saya mau lebih lagi berkorban untuk Tuhan dan sesama manusia sehingga orang dapat melihat bahwa ada kasih Kristus dalam diri saya. Deklarasi Firman Ibrani 1012” Tetapi ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya disebelah kanan Allah”. Hari Ini Saya berdoa agar kasih Kristus turun atas bangsa Amerika sehingga Amerika mengalami pemulihan hubungan. BACAAN ALKITAB MAZMUR 55-57
Terus jawaban yang D. storge kenapa salah? Karena jawaban ini sudah keluar dari topik yang ditanyakan. Penjabaran yang dijelaskan di atas merupakan informasi tambahan yang berguna sebagai pelengkap bahan pelajaran yang diberikan di sekolah. Untuk rincinya bisa dilihat di buku pelajaran yang digunakan selama ini. Memang masih ada ragam data tambahan terkait yang bisa diambil dari bahan pertanyaan yang diberikan. Karena di luar yang diberikan di buku pelajaran, masih banyak sumber data lain yang bisa digunakan juga. Untuk membantu pengertian, tidak ada salahnya menemukan informasi tambahan dari sumber berbeda dari buku pelajaran. Karena terkadang ada siswa yang lebih mudah mengerti bahan dari luar dibandingkan dengan penyajian buku pelajaran. Baca Juga Jawaban Soal Contoh Benda yang Termasuk Dalam Bahan Keras Adalah? Simak Pembahasannya! Sekianlah jawaban soal kasih yang mau berkorban untuk orang lain disebut dengan dan penjabaran komplitnya. Seluruhnya bisa dipakai sebagai pelengkap pemahaman belajar untuk menjalani ujian yang akan datang.*** Terkini
EKSPOSISI GALATIA 412-20 Gulang Wibisono, LATAR BELAKANG KITAB GALATIA Penulis BYZ Galatians 11 Pau/loj avpo,stoloj ouvk avpV avnqrw,pwn ouvde. diV avnqrw,pou avlla. dia. VIhsou/ cristou/ kai. qeou/ tou/ evgei,rantoj evk nekrw/n ITB Galatians 11 Dari Paulus, seorang rasul, bukan karena manusia, juga bukan oleh seorang manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah, Bapa, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, Semua mengakui bahwa penulis Surat Galatia adalah Paulus. Secara tradisi Galatia diterima sebagai satu dari 4 surat utama Paulus Roma, 1 dan 2 Korintus dan Galatia Galatia menjadi patokan untuk menilai apakah surat-surat lainnya dapat diterima sebagai tulisan paulus atau tidak. Ditujukan kepada Surat ini ditujukan kepada Jemaat-jemaat di Galatia 12, BYZ Galatians 12; kai. oi` evmoi. pa,ntej avdelfoi, tai/j evkklhsi,aij th/j Galati,aj ITB Galatians 12 dan dari semua saudara yang ada bersama-sama dengan aku, kepada jemaat-jemaat di Galatia. Nama Galatia berasal dari nama bangsa Kelt, yang sejak 279 sM. Memasuki Asia Kecil negeri Turki sekarang. Bangsa ini berasal dari Eropa. Surat ini ditulis Rasul Paulus kepada jemaat-jemaat Galatia yang menerima Kabar baik dari dirinya sendiri. Paulus memperingatkan mereka, agar waspada terhadap ajaran dan serangan-serangan para lawan Paulus, terhadap orang-orang ke-Yahudian, bukan orang-orang Yahudi yang sudah menjadi Kristen. Waktu Penulisan dan Tempat Penulisan Ada beberapa pendapat dari para ahli Perjanjian Baru tentang waktu dan tempat penulisan Surat Galatia; Andaikata jemaat-jemaat Galatia terletak di bagian Selatan wilayah Galatia Kis. 134-14-26, maka mungkin surat Galatia ini disusun sebelum perundingan-perundingan yang tertera dalam Kis 15, sehingga perkunjungan Paulus yang diceritakan dalam Gal. 2-10 adalah sama dengan perkunjungan yang disebut Kis. 1130, 1224. Surat Galatia kemungkinan di tulis di Antiokhia Siria dalam tahun ± 48. dan merupakan Kitab tertua dalam PB. Akan tetapi mungkin juga Surat Galatia disusun sesudah perundingan tersebut dalam Kis 15, yaitu pada perjalanan Paulus ke dua, boleh jadi di penulisannya di Korintus dalam Tahun 50. Kemungkinan lain ialah jemaat-jemaat di Galatia terdapat di daerah Galatia Utara. Sarjana-sarjana mendukung teori ini, bahwa Paulus atas perjalanannya yang kedua melalui Galatia Kis. 166 serta mendirikan jemaat di daerah itu. Jika kata Yunani dalam Gal. 413 diterjemahkan dengan ”pertama kali” ro,teron adjective accusative neuter singular comparative from pro,teroj, a, on.—For Gal 413 the first time and once are both possible. Maka kesimpulannya bahwa Paulus menulis Surat Galatia ini setidak-tidaknya pada perjalannya yang kedua ke situ, jadi dalam teori “Galatia Utara” pada perjalanan Paulus ke tiga setelah Kis1823, mungkin selama Paulus tinggal di Efesus ± 53-56 M.. Alasan Penulisan Paulus menulis surat yang sangat penting ini, karena orang-orang Kristen di Galatia telah menyimpang dari pengertian yang benar tentang iman Kristen Gal 16. Mereka dalam bahaya besar karena ada orang-orang yang memutarbalikkan kebenaran Injil tentang kemerdekaan Kristen, dengan peraturan yang telah disahkan orang Yahudi. Diantara peraturan ini, sunat menduduki tempat terpenting; dalam peraturan itu juga termasuk perhatian akan penanggalandibingungkan oleh ke-Yahudian yang ingin membebani mereka dengan kebiasaan sunat dan dengan menaati hukum-hukum Yahudi lainnya Gal 31 yang mengatakan bahwa hanya dengan jalan ini mereka dapat menikmati hubungan istimewa dengan Allah. Paulus sangat yakin jika mereka bersandar pada hukum Yahudi dalam hubungan mereka dengan Allah, berarti mereka menyangkal inti Injil, yaitu bahwa hubungan Allah dengan manusia bergantung pada iman, bukan pada perbuatan. Dalam surat ini Paulus menjelaskan hubungannya dengan gereja di Yerusalem. Ia juga menerangkan tentang sifat kebebasan Kristen yang timbul apabila orang Kristen beriman terhadap Kristus dan bukan mencoba untuk menyenangkan Allah melalui ketaatan kepada hukum Taurat. EKSPOSISI GALATIA 412-20 ITB Galatians 412 Aku minta kepadamu, saudara-saudara, jadilah sama seperti aku, sebab akupun telah menjadi sama seperti kamu. Belum pernah kualami sesuatu yang tidak baik dari padamu. 12 Dalam perikop ini Rasul Paulus menyapa Jemaat Galatia dengan ungkapan“saudara-saudaraku”kata adelpha avdelfoi, kata benda vocatif maskulin jamak biasa dari kata avdelfo,j adelphos {ad-el-fos’}, berarti saudara karena kepercayaan yang sama a fellow believer, saudara dalam Kristus, orang-orang Kristen yang sama-sama ditinggikan Christians, as those who are exalted to the same heavenly place, menunjukkan kedekatan hubungan dengan mereka, tapi juga mengingatkan posisi mereka yang istimewa sebagai orang percaya sama seperti Paulus. ITB Galatians 413 Kamu tahu, bahwa aku pertama kali telah memberitakan Injil kepadamu oleh karena aku sakit pada tubuhku. ITB Galatians 414 Sungguhpun demikian keadaan tubuhku itu, yang merupakan pencobaan bagi kamu, namun kamu tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang hina dan yang menjijikkan, tetapi kamu telah menyambut aku, sama seperti menyambut seorang malaikat Allah, malahan sama seperti menyambut Kristus Yesus sendiri. ITB Galatians 415 Betapa bahagianya kamu pada waktu itu! Dan sekarang, di manakah bahagiamu itu? Karena aku dapat bersaksi tentang kamu, bahwa jika mungkin, kamu telah mencungkil matamu dan memberikannya kepadaku. 13-15 Paulus mengingat bagaimana dia pertama kali bertemu dengan jemaat Galatia dan memberitakan Injil kepada mereka, ketika dia dalam keadaan lemah karena sakit. Kata astheneian avsqe,neian kata benda akusatif feminim tunggal biasa dari kata avsqe,neia astheneia {as-then’-i-ah}, berarti kekuatan kurang, lemah, cacat dari tubuh, kondisi yang kurang sehat, menanggung penderitaan. Menurut orang Korintus keadaan fisik Paulus yang lemah, sebagai akibat dari siksaan yang keji 2 Kor 1010. Cerita-cerita tertua mengatakan bahwa penderitaan Paulus itu berupa sakit kepala yang sangat berat dan sangat melemahkan. Bahkan dari perikop ini ada dua petunjuk muncul . Kata-kata yang sekarang diterjemahkan dengan ”kamu tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang menjijikkan” sebenarnya secara harafiah berarti “kamu tidak meludahi aku”. Dalam dunia kuno ada suatu kebiasaan bahwa orang harus meludah bila bertemu dengan orang yang berpenyakit ayan; maksudnya untuk menghindarkan diri dari roh jahat yang diduga menghinggapi si penderita. Dengan pemakaian kata-kata tersebut di atas, maka Paulus sebenarnya juga telah dianggap sebagai seorang yang berpenyakit ayan. dan sekiranya mungkin orang-orang Galatia pasti telah memberikan mata mereka kepada Paulus. Hal itu dapat terjadi karena ada dugaan bahwa Paulus terlalu sering melewati Jalan Raya Damsyik, dimana ia pernah mengalami peristiwa yang kena mengena dengan matanya. Paulus selalu mendapat kesulitan karena matanya yang disilaukan oleh peristiwa itu. Karena itu penglihatan Paulus hanya samar-samar dan selalu disertai rasa sakit. ITB Galatians 416 Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu? 16 Orang-orang Galatia pada waktu itu benar-benar mengasihi Paulus, tetapi sekarang seakan- akan mereka menjadi musuh karena Paulus mengatakan kebenaran kepada mereka. Kata ajektif normal nominatif maskulin tunggal tidak langsung dari kata Evcqro,j echthros, berarti ”lawan, dibenci hatred, musuh.” Kebenaran Injil tidak dapat disesuaikan dengan ajaran-ajaran lain, makanya kebenaran itu menimbulkan perlawanan. ITB Galatians 417 Mereka dengan giat berusaha untuk menarik kamu, tetapi tidak dengan tulus hati, karena mereka mau mengucilkan kamu, supaya kamu dengan giat mengikuti mereka. ITB Galatians 418 Memang baik kalau orang dengan giat berusaha menarik orang lain dalam perkara-perkara yang baik, asal pada setiap waktu dan bukan hanya bila aku ada di antaramu. 17-18 Kata zeloosin zhlou/sin kata kerja present indikatif aktif orang ke3 jamak dari kata zhlo,w zeloo, berarti ”menjadi cemburu, mengikuti, berusaha untuk…” Dalam perkembangan ini orang-orang Yudais memegang peranan penting. Untuk mengusahakan supaya ajaran mereka diterima maka mereka mengkambinghitamkan Paulus band. 110-12. Dengan demikian percaya kepada mereka sama dengan menolak Paulus. Dalam hal ini orang-orang itu sangat rajin memikat orang-orang Galatia. ITB Galatians 419 Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu. 19 ”Anak-anakku”kata-kata pengecil dalam bahasa Latin dan Yunani selalu mengungkapkan perasaan yang dalam. Kata Tekni,a teknia kata benda vokatif neuter jamak dari kata tekni,on teknion {tek-nee’-on}, berarti ”anak-anak kecil, satu panggilan yang penuh kasih dari guru kepada para muridnya”. Yohanes seringkali menggunakan kata-kata seperti itu; tetapi Paulus hanya memakainya dalam perikop ini. Di sini hatinya telah meluap-luap. Perlu kita catat bahwa Paulus tak pernah mengumpat dengan kata-kata yang pedas, karena ia sangat mendambakan anak- anaknya yang sesat. Kasih yang mendalam pasti akan dapat menerobos segala hal yang tak tersapa oleh suara-suara kemarahan. Paulus seakan-akan menderita sakit bersalin lagi, kata wvdi,nw kata kerja indikatif present aktif orang ke1 tunggal dari kata wvdi,nw odino {o-dee’-no}, berarti ” merasakan sakitnya melahirkan anak, sakit bersalin”. Beberapa kali Paulus menyebut dirinya bapa I Kor. 415; I Flm. 10 yang memperanakkan orang-orang percaya, di sini ia membandingkan dirinya dengan seorang ibu yang sedang melahirkan anaknya, dan dengan demikian ia menitikberatkan pada keterharuannya, kekuatirannya. Sekali lagi haruslah orang-orang Galatia itu dilahirkan sebagai anak-anaknya, yaitu sebagai anak-anak yang serupa dengan Kristus band. 68; 817; Kol. 212; 31; 2 ITB Galatians 420 Betapa rinduku untuk berada di antara kamu pada saat ini dan dapat berbicara dengan suara yang lain, karena aku telah habis akal menghadapi kamu. 20 Perasaan Paulus yang penuh kasih itu melimpah sekali. Ia ingin berada diantara mereka, kata h;qelon eth-el-on kata kerja indicatif imperfek aktif dari kata qe,lw thelo {thel’-o} eqe,lw ethelo {eth-el’-o}, berarti ”memiliki keinginan yang kuat, bertekad, mengharapkan, mengasihi, dengan senang”. Tetapi itu tidak mungkin, kalau ia di tengah-tengah mereka maka ada kesempatan untuk bertukar pikiran dalam suasana tenang band. I 2 1221;1310. Tetapi kesempatan untuk bergaul langsung dengan orang-orang Galatia itu tidak terbuka bagi Paulus, sehingga terpaksa ia melakukannya dengan perantaraan suatu surat. Dari nada surat itu kedengaran kepada kita bahwa inilah usaha terakhir bagi Paulus untuk meyakinkan orang-orang Galatia. Praktis ia sudah habis akal. APLIKASI GALATIA 4 12-20 Kasih yang rela berkorban Rasul Paulus memulai perikop ini dengan permintaan agar Jemaat-jemaat Galatia yang dia kasihi bahkan disapa sebagai saudara menjadi seperti dia karena dia telah lebih dahulu menjadi seperti mereka, sebagai orang Yahudi tidaklah mudah bagi Paulus untuk bergaul bahkan mengasihi orang yang bukan Yahudi seperti Jemaat-jemaat Galatia. Hanya kasih Yesus yang memungkinkan semua itu. Perikop ini berisi argumentasi Paulus berdasarkan perasaannya sebagai Rasul. Paulus tidak membuat imbauan teologis tetapi imbauan pribadi. Ia mengingatkan bahwa demi merekalah ia telah menjadi non-Yahudi; ia telah melepaskan diri dari tradisi-tradisi yang dikenalnya sejak kecil; ia menjadi sama seperti mereka dan itulah sebabnya ia menghimbau mereka untuk tidak menjadi Yahudi, tetapi menjadi sama seperti dia. Paulus adalah seorang bapa rohani yang baik; ia pandai mengimbangi teguran dengan kasih. Sekarang ia beralih dari “pukulan” ke “pelukan”sementara ia mengingatkan orang-orang percaya akan kasih mereka kepadanya. Pada suatu saat mereka bersedia mengorbankan apapun bagi Paulus. Demikian besarnya kasih mereka, tetapi sekarang mereka telah menjadi musuhnya. Para penganut Yudaisme telah datang dan mencuri kasih mereka. Kasih yang melimpah yang dimiliki Paulus untuk Jemaat Galatia digambarkan seperti hubungan ibu dan anaknya, ungkapan “anak-anakku”dan ”menderita sakit bersalin” menunjukkan pengorbanan yang dirasakan Paulus merupakan bukti dari betapa besarnya kasih dia kepada Jemaat-jemaat Galatia. Sebagai perintis ataupun gembala Jemaat diperlukan kasih yang besar dari para hamba Tuhan yang melayani, kadang kekecewaan karena Jemaat tidak tumbuh seperti yang diharapkan sering membuat seorang hamba Tuhan putus asa, semua pengorbananpun terasa sia-sia saja. Hamba Allah yang sejati tidak “memanfaatkan orang”untuk membesarkan diri atau pekerjaannya; ia melayani di dalam kasih untuk menolong orang mengenal Kristus dengan lebih baik dan memuliakan dia. Marilah kita belajar dari Sang Guru Agung kita yang kasihNya melimpah bahkan rela mati untuk menebus dosa manusia. Ketika kita merasa kurang mengasihi biarlah Dia yang telah lebih dulu mengasihi kita, melimpahkan kasihNya. Kasih yang rela berkorban untuk orang-orang yang bahkan tidak menunjukkan kasih kepada kita. Keberanian menyatakan kebenaran Perlu keberanian untuk menyatakan kebenaran, ketika Rasul Paulus mendengar bahwa Jemaat-jemaat Galatia mulai dibingungkan dengan ajaran sesat, segera Paulus mengirimkan surat yang berisi teguran dan peringatan agar mereka kembali kepada kebenaran Injil yang memerdekakan. Walaupun itu membuat dia dimusuhi, dianggap musuh oleh Jemaat yang begitu dia kasihi karena Paulus berani menyatakan kebenaran bukanlah keadaan yang menyenangkan. Sebagai hamba Tuhan seringkali kita harus memilih diam atau menyatakan kebenaran, perasaan dimusuhi atau dianggap aneh karena menyatakan kebenaran bukanlah hal yang mudah. Tapi itu bukan berarti kita putus asa dan menjadi tidak peduli. Jemaat tetap perlu tahu apa yang benar atau salah sepahit apapun itu. Seperti orangtua yang selalu ingin yang baik untuk anak-anaknya walaupun terkadang si anak tidak mau mendengar atau menerimanya, perintis atau gembala Jemaat perlu terus menunjukkan kebenaran dalam Kristus dalam pengajarannya. Amien. DAFTAR PUSTAKA OFM, Pengantar Ke Dalam Perjanjian Baru YogyakartaKanisius, cet. ke-7, 1992. Drs. Duyverman, Pembimbing Ke Dalam Perjanjian Baru Jakarta BPK Gunung Mulia, cet. ke-11, 1996. Tafsiran Alkitab Surat Galatia Jakarta BPK Gunung Mulia, cet. ke-7, 2001. John Balchin, Peter Cotterell, Mark Evans, Gilbert Kirby, Peggy Knight, Derek Tidball, Intisari Alkitab Jakarta Persekutuan Pembaca Alkitab, cet. ke-1, 1994. John Drane, Memahami Perjanjian Baru – Pengantar Historis Teologis Jakarta BPK Gunung Mulia, cet. ke-1, 1996. William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari Surat-surat Galatia dan Efesus Jakarta BPK Gunung Mulia, cet. ke-9, 2008. Warren W. Wiersbe, Merdeka Di Dalam Kristus – Tafsiran Surat Galatia Bandung Kalam Hidup, 1975.
kasih yang mau berkorban untuk orang lain disebut dengan